by

Sering Rancu, Penting Perbedaan Lockdown Dan Social Distancing

Sejak serangan virus Corona atau Covid-19 merebak di banyak sekali tempat Indonesia, pemerintah menyarankan untuk memberlakukan social distancing. Menghabiskan lebih banyak waktu dirumah dan meminimalkan interaksi sosial yang melibatkan massa.

Sering Rancu, Ini Perbedaan Lockdown dan Social Distancing

Social distancing nyaris menjadi sajian utama berbagai media, di samping pilihan “lockdown” yang lebih diseleksi oleh negara tetangga Malaysia. Ya, Presiden Jokowi mengakui bahwa opsi lockdown tidak pernah ada dalam bayangannya mengenang efeknya yang lebih besar dibanding social distancing.

Upaya Jokowi dalam menentukan keputusan antara lockdown dan social distancing, balasannya menciptakan diskusi di berbagai lini masa tentang pentingnya lockdown bagi pencegahan penyebaran virus dan belum disiplinnya warga Indonesia melaksanakan social distancing.

(Baca juga: Daftar Pesepak Bola Terkena Corona, Adakah Idolamu?)

Para musisi, artis dan pegiat sosial ramai-ramai membahas kedua ungkapan tersebut, yang bekerjsama masih aneh bagi pendengaran penduduk awam. Alhasil taktik social distancing yang diharapkan pemerintah tak pernah terealisasi. Masih banyak warga yang tidak mengindahkan tawaran pemerintah untuk melakukan pekerjaan dan mencar ilmu dari rumah.

Apa itu Social Distancing?

Banyak influencer yang menumpahkan kekesalannya ketika menyaksikan warga Indonesia yang berbondong-bondong berlibur ke pantai ditengah penyebaran virus Corona yang semakin meluas.

Istilah social distancing pun mereka kemukakan, yang sebenarnya hanya diketahui oleh sebagian kecil kelompok. Maklum, istilah dalam bahasa Inggris memang kurang nasionalis sehingga sukar dicerna oleh sebagian besar penduduk Indonesia.

Mengutip dari NewScientist social distancing adalah perubahan sikap yang mampu membantu menghentikan penyebaran bengkak. Perilaku ini termasuk membatasi kontak sosial, pekerjaan dan sekolah di antara orang-orang yang tampaknya sehat, dengan maksud untuk menunda atau menekan penularan wabah.

Pada observasi terdahulu adalah dikala wabah flu 1918 dan Ebola menyerang pada 2014, strategi social distancing ini dianggap berhasil menekan penyebaran virus.

Beberapa langkah-langkah konkret social distancing antara lain nda dapat menurunkan risiko nanah dengan menghemat tingkat kontak Anda dengan orang lain.

Menghindari ruang publik dan pertemuan sosial yang tidak perlu, utamanya program dengan sejumlah besar orang atau orang banyak, akan menurunkan kemungkinan Anda terkena virus corona baru serta penyakit menular lainnya seperti flu.

Langkah-langkah lain melakukan pekerjaan dari rumah jikalau mungkin, mengatur konferensi melalui panggilan video dibandingkan dengan melakukannya sendiri dan menyingkir dari penggunaan transportasi biasa yang tidak perlu.

Organisasi Kesehatan Dunia merekomendasikan untuk mempertahankan jarak setidaknya 1 meter antara Anda dan semua orang yang batuk atau bersin. Anda juga diusulkan untuk menghindari kontak fisik dengan orang lain dalam situasi sosial, termasuk jabat tangan, pelukan, dan ciuman.

Namun taktik social distancing ini menawarkan implikasi terhadap keadaan ekonomi setiap negara. Upaya sosial untuk menertibkan penularan tersebut mesti dibayar dengan ongkos ekonomi yang berkembangsignifikan tetapi dengan segala industri yang goyang sebab ekonomi tidak berlangsung dengan tanpa kendala.

Social distancing ini sifatnya cuma sebuah himbauan atau seruan dari pemerintah. Makara realisasinya tergantung kepada kesadaran individu untuk sama-sama mempertahankan batas atau malah tidak acuh sama sekali.

Apa itu Lockdown?

Perbedaan lockdown dan social distancing, lockdown yaitu pembatasan secara resmi yang dijalankan oleh pemerintah. Lockdown ialah suasana yang melarang warga untuk keluar-masuk suatu tempat karena kondisi darurat. Lockdown juga artinya menutup perbatasan untuk menghalangi orang-orang meninggalkan maupun memasuki sebuah area

Saat lockdown diberlakukan sejumlah fasilitas umum mirip sekolah, universitas, cafe, restoran, dan bioskop dan tempat-tempat yang ramai dikunjungi warga akan ditutup hingga informasilebih lanjut.

Hingga dikala ini Presiden Jokowi menilai Indonesia masih belum membutuhkan lockdown. Kebijakan lockdown sudah diterapkan di China pada ketika permulaan virus corona mewabah, Italia, Denmark, Prancis, dan Spanyol.

Perbedaan Lockdown dan Social Distancing

1. Undang-Undang

Nyatanya dilema lockdown dan social distancing ini dikelola dalam Undang-undang Nomor 6 Tahun 2018 ihwal Kekarantinaan Kesehatan, yaitu pasal 59 dan 60. Regulasi tersebut juga menerangkan perbedaan lockdown dan social distancing.

Pada UU tersebut dijelaskan bahwa lockdown atau karantina kawasan adalah “pembatasan penduduk dalam suatu kawasan termasuk daerah pintu masuk beserta isinya yang disangka terinfeksi penyakit dan/atau tercemar sedemikian rupa untuk mencegah kemungkinan penyebaran penyakit atau kontaminasi.

Sedangkan social distancing atau pembatasan sosial didefinisikan sebagai “pembatasan kegiatan tertentu penduduk dalam sebuah wilayah yang diduga terinfeksi penyakit dan/atau terkotori sedemikian rupa untuk menghalangi kemungkinan penyebaran penyakit atau kontaminasi.

Kesimpulannya, lockdown dan social distancing sama-sama bermaksud menekan potensi penularan penyakit. Perbedaannya, lockdown membatasi mobilisasi orang agar tidak masuk dan keluar sebuah daerah, sedangkan social distancing membatasi kegiatan sosialnya saja untuk tidak menciptakan hiruk pikuk.

Kemudian pada pasal 59 ayat 2 dijelaskan bahwa pembatasan sosial lebih bermaksud untuk menangkal meluasnya penyebaran penyakit yang sedang terjadi antar orang di sebuah daerah.

Social distancing yakni strategi untuk mencegah penularan penyakit antar individu dalam satu daerah, sedangkan lockdown untuk menangkal penularan antar kawasan berlawanan.

Lalu pada pasal 59 ayat 3 dijelaskan bahwa pembatasan sosial antara lain dijalankan dalam bentuk antara lain:

  • Meliburkan sekolah dan daerah kerja,
  • Pembatasan acara keagamaan, dan
  • Pembatasan aktivitas di tempat atau kemudahan umum.

2. Isolasi

Perbedaan pertama antara lockdown dan social distancing yaitu jenis isolasi yang digunakan. Jika pada abad social distancing isolasi dilakukan atas kesadaran sendiri tanpa paksaan dari pihak manapun, maka pada masa lockdown isolasi ini bersifat wajib.

Biasanya ada sejumlah tentara yang dikerahkan untuk memastikan masyarakat menaati perintah lockdown. Namun tidak semua negara mengambil keputusan ekstrem ini. Isolasi pada negara yang menyatakan lockdown juga tidak selamanya berjalan mulus. Italia contohnya.

Meski negara ini memberlakukan status lockdown tetapi sejumlah warga masih melaksanakan pertemuan yang melibatkan massa. Akibatnya, setelah kurun lockdown diberlakukan jumlah orang yang nyata virus Corona justru makin meningkat. Hal itu alasannya tidak adanya pengawasan dan aturan yang tegas untuk para warganya.

3. Pembatasan Aktivitas

Saat negara menyerukan social distancing, sesungguhnya pemerintah belum secara tegas melakukan pembatasan kegiatan publik. Setidaknya hanya 20% dari program yang melibatkan kala dapat digagalkan, selebihnya utamanya yang diadakan di tempat pedesaan sukar untuk ditangguhkan. Hal ini sebab tidak adanya pengawasan dari pemerintah sentra.

Sementara dikala lockdown diberlakukan artinya setiap kegiatan yang dijalankan penduduk mesti berada di bawah pengawasan pemerintah. Di negara yang menerapkan lockdown, penduduk harus berada di dalam rumah atau apartemen dan dihentikan keluar sampai waktu yang belum diputuskan.

4. Penggunaan Ruang Publik

Jika dikala social distancing ada sejumlah ruang publik yang masih diperbolehkan beroperasi seperti kampus dan supermarket, dan masih mampu diakses bebas.

Hal berlainan terjadi ketika penerapan status lockdown. Masyarakat tidak bisa lagi secara bebas berbelanja kebutuhannya dimanapun dan kapanpun. Aktivitas belanja dibatasi.

Bahkan beberapa negara betul-betul melarang warganya keluar dari rumah, mereka akan mendatang kebutuhan domestik warganya dan diantar kerumah masing-masing.

Itulah beberapa perbedaan antara social distancing dan lockdown. Indonesia sendiri telah menerapkan social distancing di beberapa kota besar, khususnya Jabodetabek.

Social Distancing dan Lock Down, Mana Paling Efektif?

Sejumlah negara berani mengambil perilaku tegas dengan memutuskan negaranya lockdown. Artinya dilarang ada lagi orang atau individu yang keluar maupun masuk ke dalam sebuah negara hingga tenggat waktu yang ditentukan.

Namun kebijakan lockdown ini tidak selamanya efektif menekan penyebaran pandemi virus Corona. Ambil contih Italia yang kini masih berjuang dengan korban yang terus meningkat, padahal status lockdown sudah diberlakukan semenjak lama.

Para jago ekonomi bahkan berpendapat status lockdown bisa mengakibatkan sejumlah implikasi buruk bagi suatu negara. Memang keputusan Lockdown diperkirakan akan dapat menghalangi penyebaran Covid 19 dari luar ke dalam negeri. Namun saat virusnya telah masuk dan menyebar ke dalam negeri, maka kebijakan lockdown condong tidak efektif.

Sebab jumlah korban pasti akan terus meningkat. Sejumlah jago menyarankan alih-alih lockdown ada baiknya bagi negara yang mengalami paparan virus Corona cukup luas biar memberlakukan taktik social distancing saja, dan disisi lain memajukan akomodasi kesehatan yang terjangkau bagi semua kelompok.

Cara untuk menekan pandemi Corona yang paling baik yaitu self isolation, membatasi diri dari interaksi sosial dan kontak dengan orang lain. Upaya lockdown dianggap percuma bila warganya tetap melaksanakan interaksi sosial dan tidak menerapkan upaya pencegahan yang diusulkan.

Kebijakan Pemerintah

Selain kebijakan lockdown akan berpengaruh besar terhadap negara, baik dari segi ekonomi, sosial, dan keamanan. Dalam hal ini Indonesia diprediksi belum siap bila mesti melakukan lockdown.

DKI Jakarta yang menjadi wilayah dengan persebaran pandemi Corona paling besar di Indonesia telah mulai menerapkan social distancing. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengeluarkan sejumlah kebijakan, di antaranya:

  • Membatasi Akses Transportasi Umum Mulai 16 hingga 30 Maret 2020

Layanan bus transjakarta hanya akan melayani 13 rute dan memberhentikan sementara layanan Angkutan Malam Hari (Amari). Waktu operasionalnya pun dibatasi hanya antara pukul 06.00-18.00 dengan jeda keberangkatan tiap 20 menit.

  • Car Free Day Dihapuskan hingga 20 Maret 2020

Pemerintah provinsi DKI Jakarta memutuskan meniadakan aktivitas Car Free Day untuk sementara waktu. Hari bebas kendaraan bermotor (HBKB) yang kerap diadakan di sepanjang jalan Sudirman-Thamrin lazimnya terjadi di selesai pekan.

  • Meliburkan Sekolah Selama 14 hari

Seluruh kegiatan berguru mengajar di seluruh sekolah di DKI Jakarta ditangguhkan, dan pelaksanaan Ujian Nasional pun juga ditangguhkan . Para siswa dan guru diimbau untuk melakukan proses berguru mengajar jarak jauh.

  • Menutup Tempat Wisata

Tempat wisata dinilai selaku sumber keramaian dan memiliki peluang besar mengembangkan virus. Pemerintah Jakarta memutuskan menutup 28 tempat wisata ialah:

Kawasan Monas, Kawasan Kota Tua Ancol (tempat pantai), Dunia Fantasi, Atlantis Water Adventures, Ocean Dream Samudra, Sea World Ancol, Allianz Ecopark, Taman Margasatwa Ragunan, Anjungan DKI di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), PBB Setu Babakan, Planetarium Taman Ismail Marzuki, Rumah si Pitung, dan Taman Arkeologi Onrust.

Kemudian ada Museum Bahari, Museum Sejarah Jakarta, Museum Prasasti, Museum MH Thamrin, Museum Seni Rupa dan Keramik, Museum Tekstil, Museum Wayang, Museum Joang 45, Museum MACAN, Museum Mandiri, Museum Maritim Indonesia, Museum Nasional Indonesia, Museum Sumpah Pemuda, dan Museum Kebangkitan Nasional.

Itulah beberapa strategi social distancing pemerintah DKI Jakarta. Namun upaya pemerintah menekan penyebaran virus ini tidak bisa direalisasikan jikalau para warganya masih tidak mengindahkan anjuran yang disampaikan para pejabat terkait. Bijaklah dalam bertindak dan selalu berhati-hati alasannya bahaya virus Corona ada dimana-mana.

Saat ini kalau kau ingin melakukan kredit belanjaan tanpa credit card mampu pakai layanan dari Kredivo loh. Bahkan platform ini menawarkan limit sampai Rp30 juta untuk berbelanja di sejumlah e-commerce ternama, mirip Lazada, Shopee, dan masih banyak lagi.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed